Oleh : Ilham M. Wijaya
Kenaikan harga minyak mentah Internasional telah memicu kekhawatiran semua kalangan, termasuk para pelaku bisnis properti. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena lonjakan kenaikan minyak yang mendekati 100 Dollar AS per barrel akan mempengaruhi perekonomian terutama menyangkut kenaikan suku bunga dan tingkat inflasi secara nasional. Apabila kondisi ini tidak cepat pulih, maka kondisi industri properti akan kembali mengalami keterpurukan.
Padahal kalau kita lihat pada akhir kuartal tiga tahun 2007, pasokan produk properti subsektor apartemen dan kondominium di Jakarta berkembang cukup pesat, total kumulatif pasokan baru ini berjumlah 44.997 unit. Sedangkan daya serap pasar masih berkisar antara 60%-70%, kalaupun ada yang tingkat penjualannya sudah mendekati 90 %, proyek tersebut rata-rata dibangun dibawah tahun 2005. Untuk proyek baru yang tahap kontruksinya rata-rata dimulai tahun 2006 dan 2007, maka tantangan kedepan adalah kondisi makro ekonomi yang tidak menentu.
Proyek baru yang banyak bermunculan ini sebelumnya memang tidak memperhitungkan bakal terjadinya kenaikan minyak dunia. Karena kondisi perekonomian nasional sejak kuartal pertama tahun 2007 terus menunjukkan kinerja yang positif untuk investasi. Terbukti dengan menurunnya suku bank Indonesia dan meningkatnya kredit properti yang disediakan oleh perbankan, ditambah daya beli masyarakat juga sudah mulai membaik.
Beberapa pengamat memprediksi akan terjadi booming properti pada tahun 2010, karena diperkirakan pada tahun tersebut semua proyek properti sudah mulai beroperasi dengan asumsi harga jual meningkat tajam. Namun melihat kondisi sekarang ini, prediksi tersebut bakal meleset, melihat fakta kenaikan minyak dunia saat ini, bisa jadi industri properti akan mengalami resesi. Resesi ini akan dimulai dengan macetnya kredit properti, kemudian biaya proyek tinggi sedangkan daya serap pasar rendah karena daya beli masyarakat menurun serta harga produk properti baik sewa maupun jual berada pada posisi tetap. Kondisi inilah yang tidak menggairahkan kondisi industri properti.
Kenaikan minyak dunia ini memang disisi lain akan menguntungkan bagi Negara pengekspor minyak. Keuntungan ini bisa berlipat ganda apabila Negara tersebut mampu mengekspor minyak dalam skala besar. Indonesia yang dulu terkenal dengan Negara kaya minyak, sekarang sudah tidak bisa lagi menikmati booming harga minyak, karena investasi eksplorasi minyak di Indonesia sudah lama mengalami penurunan. Dari total kebutuhan minyak dalam negeri ternyata tidak mencukupi sehingga sisanya harus di import dari Negara lain.
Kenaikan harga minyak ini bukan hanya masalah ekonomi melainkan sudah masuk kepada masalah politik global, tanpa menafikan masalah itu. Harga minyak dunia sudah naik, apabila kenaikan ini berlangsung lama maka beban anggaran semua sektor produksi akan meningkat. Lain soal kalau kenaikan minyak dunia ini hanya berlangsung sesaat, kondisi perekonomian akan kembali membaik.
Dari sekian banyak fakta kondisi makro ekonomi Indonesia, pertanyaan kemudian bagaimana membuat strategi menghadapi kondisi makro ekonomi yang tidak menentu, agar industri properti bisa tetap eksis dan bisa menghasilkan keuntungan yang sempurna?. Pertanyaan inilah yang ada dalam benak pelaku bisnis properti.
Pelaku bisnis properti selalu memiliki kepekaan terhadap kondisi Perekonomian karena aktivitas bisnisnya akan berkaitan langsung dengan struktur ekonomi. Apabila kondisi perekonomian tidak cepat pulih maka solusi yang terbaik untuk mengamankan aset dan investasi di bidang properti adalah dengan cara mengalihakan investasi kebidang lain yang tentunya memenuhi syarat keamanan investasi dan memiliki nilai keuntungan yang besar.
Namun investasi di sektor properti ini tetap memberikan peluang untuk mendapat keuntungan maksimal, karena pada dasarnya investasi disektor properti bersifat jangka panjang, dengan catatan investasi di bidang properti itu memenuhi syarat legalitas hukum dan faktor lokasi investasi.
Dengan demikian persoalan yang dihadapi dunia properti saat ini harus dilihat sebagai siklus yang akan mengalami fluktuasi. Walaupun fluktuasi ini akan membunuh pelaku bisnis properti yang tidak memiliki kehandalan mengelola bisnis properti termasuk yang memiliki modal minim. Bagi yang handal maka persoalannya hanya masalah waktu untuk mendapat keuntungan. Artinya berpikir secara melingkar untuk berinvestasi dibidang lain yang masih memiliki tingkat keamanan investasi dan prospektif adalah langkah yang tepat untuk dilirik oleh para pelaku bisnis properti.
Jakarta, 19 Nopember 2007
Nov 19, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Artikel yang sangat bagus, Saya ingin sedikit komentar. Pertumbuhan sektor perbankan boleh dikatakan semu. Net interest margin perbankan pada 2007 dan awal 2008 sangat besar, namun tidak didukung oleh perbaikan kinerja fundamental seperti peningkatan penggunaan kredit. Akibatnya apakah tahun 2008 tidak terjadi kelebihan pasokan di sektor properti komersial? Karena suplai sektor properti tidak diikuti oleh kenaikan permintaan.
ReplyDelete